Langsung ke konten utama

Golongan yang Selamat


Ustadz benarkah ummat Islam terpecah ke dalam 73 golongan dan semuanya sesat kecuali hanya satu golongan? Apakah ada dalilnya, dan siapakah golongan yang selamat tersebut?

Ada beberapa hadits yang biasa disampaikan dalam membahas masalah terpecahnya Islam ke dalam beberapa golongan. Diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majaah dan al-Hakiim dari Muhammad bin Amru bin al-Aqamah bin Waqqash al-Laitsi. Bunyi hadits tersebut: “Yahudi terpecah menjadi 71 (atau dua) golongan (firqah). Nashrani terpecah menjadi 71 (atau dua) golongan. Dan ummatku akan terpecah menjadi 70 golongan.” Adapula hadits semakna dengan hal itu yang berbunyi: “Umat Islam ini akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya berada di neraka kecuali satu”. (Tercantum dalm Tafsir Ibnu Katsir juz 2 hal 7143)
Terdapat hadits-hadits lain yang kurang lebih sama, dan sering dikutip ketika menyampaikan masalah perpecahan ummat dan golongan yang selamat. Hanya saja, semua hadits berkaitan dengan masalah ini tidak lepas dari perbincangan para ulama, baik dari sisi sanad maupun matan (isi)nya, sehingga diragukan keshahihannya. Pada hadits pertama misalnya, Muhammad bin Amru bin al-Aqamah bin Waqqash al-Laitsi, al-Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab at-Tarhib menyebutnya sebagai orang jujur namun sedikit kelemahan ingatan. Imam Adz-Dzahabi pun menilai Muhammad bin Amru tersebut tidak bisa dijadikan hujjah (sandaran) jika dia sendirian. Sedangkan hadits kedua, menurut Imam asy-Syaukani tambahan redaksi semuanya berada di neraka kecuali satu adalah dhaif, bahkan Ibnu Hazam menilainya maudhu.
Jika pun hadits ini dianggap shahih, dijadikan dalil tentang perpecahan ummat, menurut Syaikh Qaradhawi, hal itu menerangkan pernah terjadi dalam rentang waktu tertentu, bukan suatu perkara yang selamanya terjadi. Beberapa golongan itu pernah ada dan terjadi, kemudian dikalahkan golongan yang benar, maka golongan-golongan itu pun lenyap tidak kembali lagi selamanya.
Adapun golongan yang selamat, sebagaimana banyak dalam nash, adalah mereka yang berpegang teguh kepada petunjuk al-Qur’an dan as-Sunnah, dimanapun dan sampai kapanpun. Wallahu’alam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bolehkah Menjama' Sholat Ashar dan Maghrib?

Ustadz apakah shalat Ashar bisa dijama’ dengan shalat Maghrib. Soalnya saya pernah terlambat shalat Ashar sedang di perjalanan memasuki maghrib. Menjama’ atau melaksanakan dua kewajiban shalat pada satu waktu merupakan keringanan ( rukhsah ) yang diberikan Allah SWT atas kaum muslimin, sekaligus menjadi salah satu bukti keluwesan Islam dan kemudahan hidup di dalam aturan Islam. Keringanan untuk menjama’ shalat ini diantaranya diberikan bagi mereka yang sedang dalam perjalanan ( musafir ). Cara pelaksanaan shalat jama’ ini bisa dilakukan dengan jama’ taqdim atau jama’ ta’khir . Jama’ taqdim ialah melaksanakan dua shalat pada waktu shalat yang awal yakni dengan menarik waktu shalat berikut ke waktu awal, misalnya melaksanakan shalat ashar ke waktu dzuhur. Sedangkan jama’ takhir ialah melaksanakan dua shalat pada waktu shalat yang akhir atau mengerjakan shalat awal ke waktu shalat berikutnya, misalnya melaksanakan shalat dzuhur ke waktu ash...

Makna Hikmah dalam Da'wah

Ustadz, saat ini bermunculan gerakan da’wah yang mengedepankan kekerasan, bahkan tidak sungkan-sungkan menghujat ulama lainnya, padahal bukankah da’wah harus dengan hikmah dan lemah-lembut? Bagaimana pendapat ustadz? Dakwah Islam harus dilakukan dengan hikmah, hal ini ditegaskan Allah SWT, diantaranya dalam firmanNya: “ Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”. (QS. An-Nahl: 125). Secara bahasa, pengertian hikmah ialah pengetahuan mengenai sesuatu yang paling baik dengan landasan ilmu yang terbaik”. (Lisanul Arab jilid 12 hal 140). Sedangkan kata hikmah di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah memiliki makna yang beragam, tidak kurang dari dua puluh makna. Imam Ibnul Qayyim berkata: “Pendapat yang paling baik tentang hikmah adalah pendapat Mujahid dan Malik. Hikmah adalah pengetahuan tentang kebenaran dan pengamalannya, ketepatan dalam perkataan dan perbuatan. Hal ini tidak bisa dicapai kecuali dengan...

Mengolok-olok Ulama

Dalam beberapa tayangan televisi, ulama dan tokoh agama tidak jarang jadi bahan lawakan dan olok-olok. Bagaimana menurut ustadz? Kedudukan ulama di dalam Islam sangatlah terhormat. Betapa banyak nash yang menggambarkan kemuliaan orang-orang yang mempelajari Islam dan mengajarkannya. Ketinggian derajat ulama, diantaranya disebutkan langsung pada ayat berikut: “ Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. (QS. Al-Mujadilah 11). Diantara kemulian ulama, ialah mereka menjadi tempat rujukan bagi ummat untuk meminta fatwa dan penjelasan atas berbagai permasalahan dalam agama ini. “Maka bertanyalah kepada ahladz dzikr jika kamu tidak mengetahui”. (QS. An-nahl: 43). Ahludz dzikr ialah ulama, yaitu mereka yang memahami dan mendalami al-Qur’an dan as-Sunnah. Ulama pun disebut pewaris para nabi, karena hidup mereka diabdikan untuk menegakkan Islam, da’wah ke jalan...