Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label tadzkiyatun nafs

Membersihkan Kotoran Hati

“ Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaithan, maka sesungguhnya syaithan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” . (QS. An-Nuur 21) P erbuatan manusia, memiliki pengaruh yang timbal balik dengan hati. Hati yang kotor akan cenderung pada perbuatan yang jahat, maksiat dan mungkar. Hati yang bersih akan menyenangi hal-hal yang baik, ma’ruf dan berbagai keshalihan. Perbuatan yang jahat, maksiat dan mungkar akan menjadi kotoran yang menodai kebersihan hati. Bila dibiarkan dan terus meneruskan dilakukan, kotoran itu kian bertambah, melekat dan menutupi hati manusia. Sebaliknya, bila manusia se...

Amal-Amal Menuju Syurga

S yurga ( jannah ) adalah tempat di akhirat kelak. Ia merupakan sebaik-baik tempat kembali, sebaik-baik kehidupan yang dituju. Semestinya, syurga menjadi tempat yang paling dirindukan setiap manusia yang hidup di bumi ini. Kenikmatan syurga, tidak bisa di-bayangkan oleh pikiran manusia, keindahan hidup di dalamnya pun tidak bisa diukur pula oleh ukuran-ukuran yang ada di dunia ini. Allah SWT berfirman: “Telah Kusediakan untuk seluruh hambaKu yang shalih suatu balasan (syurga) yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh te-linga dan belum pernah terlintas dalam hati se-orang pun”. (QS. Sajdah 17) Rasul SAW pernah menggambarkan, kenikmatan dunia dibandingkan dengan syurga, seperti tetesan air yang menetes dari ujung (kuku) jari yang dice-lupkan pada samudera. Air yang menetes itu adalah kenikmatan dunia, sementara air samudera yang luas tanpa batas adalah kenikmatan syurga. Dibandingkan dengan kehidupan akhirat (syurga), niscaya kehidupan dunia tidakl...

Sabar Ikhtiyarian

“ Dan Allah telah membuat perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman dan tentram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, oleh karenanya Allah memberkan kepada mereka kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat”. (QS. An-Nahl 112) S eorang mu’min dalam menjalani hidupnya, akan menghadapi orang-orang yang dengki (hasad) atas keimanannya. Orang-orang yang dengki ini, merasakan kedengkian atas keimanan orang-orang yang beriman. Mereka tidak rela meliat nikmat iman yang telah diberikan Allah SWT dan kedengkian mereka akan hilang manakala keimanan itu lenyap dari orang-orang beriman. Di dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 120, Allah SWT menggambarkan kedengkian yang diidap kaum Yahudi dan Nasrani. Firman Allah SWT: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka”. Di daam menghadapi orang-orang yang dengki in...

Penawar Hati

“ Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Yunus 57) T idak ada penderitaan yang dialami manusia melebihi kesengsaraan akibat penyakit hati. Penyakit ini menggerogoti perasaan manusia, menghilangkan rasa bahagia, kesenangan dan kelapangan menjalani hidup. Penyakit hati pun meracuni pikiran sehingga senantiasa berpikir negatif dan tidak mampu membangun keharmonisan dalam hidupnya. Penyakit ini pun memperburuk penampilan seseorang, sikap yang menghilangkan rasa hormat orang lain, perilaku yang mengundang antipati dan benci. Adakah yang lebih menyengsarakan hidup ini, bila hati manusia telah mengidap penyakit? Bila dengki ( hasad ) mengendap dalam dada, maka kebahagiaan pun terampas. Sulit untuk merasakan kebahagiaan dalam hidup, sebab begitu banyak yang bisa membuat hati sengsara karena hasad. Kebahagiaan orang lain membua...

Hakikat Dunia

Untuk apakah dunia bagiku, aku hanyalah laksana seorang (musafir) yang berteduh di bawah pohon, kemudian ia akan segera pergi meninggalkan pohon itu”. (HR at-Tirmidzi III/278). Demikianlah ungkapan Rasulullah SAW, manusia mulia dan bersahaja, padahal dunia berada dalam genggamannya. Kekuasaan kekhilafahan Islam yang membentang luas, harta kekayaan yang melimpah ruah. Semua itu, tidak ada tempat dalam hatinya. Kebersahajaan dalam hidup Rasulullah SAW, bukan disebabkan ketidakmampuannya untuk memperoleh kenikmatan dunia. Seandainya beliau membuka hatinya untuk dunia, niscaya kemewahan dan kesenangan dunia akan sangat mudah dinikmatinya. Tetapi, kerinduan hatinya senantiasa pada hidup yang jauh lebih mulia, pandangannya melihat pada kehidupan yang lebih tinggi daripada dunia ini. Bila dibandingkan, dunia ini tidaklah berarti apa-apa. “Kubangan air di surga, jauh lebih baik daripada dunia dan seisinya. Berjihad di jalan Allah, di pagi hari atau di malam...

Bahaya Hati yang Sakit

 “ Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta”. (QS. Al-Baqarah 10) B ila hati, akal dan jasad adalah lapisan-lapisan yang membalut dan membentuk manusia, maka hati merupakan lapisan paling dalam. Lapisan terluar adalah jasad, penampakkannya sangat jelas, kondisi sehat dan sakit sangat mudah terlihat dan terasakan, bahkan oleh orang lain. Begitu pula halnya dengan akal, kondisi akal yang cerdas atau bodoh, relatif mudah dikenali dan dirasakan oleh pemiliknya. Dan manusia, tidak sungkan-sungkan untuk memperbaiki kondisi jasad dan akalnya agar lebih baik. Bahkan dengan senang hati akan menerima pemberitahuan tentang sakitnya kondisi jasad, atau pelimpahan ilmu pengetahuan bagi akalnya yang jahil. Berbeda halnya dengan hati. Hati sangatlah pelik, dimana kondisinya seringkali tidak nampak dan sangat lambat terasakan keadaannya. Hati yang sehat tidak serta...

Tauhid - Kebersihan Hati Nurani

  “ Katakanlah: Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan (Nya), (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat”. (QS. Al-Fushulat 6-7) Pada asalnya hati nurani manusia itu bersih. Bersihnya hati manusia, tidaklah sebagaimana diumpakan sebagai secarik kertas kosong, atau tanpa rasa, tanpa kecenderungan, dan hampa dari nilai-nilai. Di dalam Islam, kebersihan hati nurani manusia pada awalnya, disebut fitrah. Fitrah adalah kondisi awal nurani manusia yang memiliki kecenderungan pada nilai-nilai Ilahi dan siap menerima petunjukNya. Demikianlah Allah telah menciptakan manusia dimana pada awal penciptaannya, manusia telah mengakui Allah sebagai Rabb mereka. Inilah haki...

Menghilangkan Syak (Keraguan)

  “ Allah telah mengunci mati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat”. (QS.al-Baqarah 7) H ati yang telah dikunci mati oleh Allah SWT ialah hati yang telah terselimuti kekufuran yang akut. Kekufuran yang bersemayam lama dalam hati seseorang dan tidak pernah ada upaya untuk membersihkannya. Akhirnya, kekufuran itu tumbuh dan berkembang menguasai hati seseorang. Pada derajat ini, segala keterangan dan nasehat, sudah tidak mampu lagi menembus hatinya. Berbagai keterangan, bukti dan pengalaman ruhani sekalipun, tidak lagi mampu menggerakkan hatinya. Kekufuran sendiri adalah komplikasi dari berbagai penyakit hati. Diantara penyakit yang dapat menyebabkan hati mati ialah keraguan ( syak ). Keraguan yang dimaksud, bukanlah pada kehidupan duniawi, namun keraguan menghadapi dan menyikapi petunjuk Allah. Petunjuk Allah yang melimpah, baik yang tertuang dalam al-Qur’an maupun yang terkandung dalam peristiwa dan tanda-tanda alam...

Dzikrul Maut - Jalan Pembersihan Diri

 “ Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam keadaan lalai lagi berpaling (darinya)”. (QS. Al-Anbiya 1) Adakalanya berbagai penyakit hati, jauh lebih mudah dibersihkan dengan jalan mengingat mati (dzikrul maut). Berbagai penyakit seperti sombong, hasad, amarah dan syahwat bisa lebih cepat mereda tatkala kita teringat pada kematian. Saat kematian dimana kita harus meninggalkan segala hiruk pikuk kehidupan ini dan masuk dalam kegelapan yang sunyi dalam sebidang tanah yang hanya cukup menampung sekujur badan. Di dalam sebidang tanah itulah kita dikubur, sendiri. Pada saat itu, kita mulai dihisab untuk mempertanggungjawabkan seluruh kehidupan di dunia yang telah dijalani. Adakah orang yang tidak gentar mengingat kematian? Hari dimana kita harus meninggalkan semua orang yang dicintai dan mencintai diri kita, dan masing-masing masuk ke dalam kehidupan sendiri-sendiri. Hari dimana kita akan mulai menjalani hidup sendirian menuju ...

Lelaki Calon Penghuni Surga

Dalam musnad Imam Ahmad, diriwayatkan dari Anas ra: “Kami (para shahabat) suatu ketika duduk bersama Nabi saw. Beliau bersabda: “Akan datang kepada kalian di jalan yang kecil ini seorang laki-laki diantara ahli surga ( rajulun min ahli jannah )”. Maka Anas menceritakan, ternyata datang seorang laki-laki dari kalangan Anshar yang jenggotnya itu basah bekas air wudhu dan ia menjinjing sandalnya di tangan kirinya, lalu dia mengucapkan salam. Besoknya Rasulullah saw berkata kembali, “Akan datang kepada kalian seorang laki-laki calon ahli surga”. Ternyata, orang yang sama. Kemudian di hari ketiga, Rasulullah saw kembali mengatakan hal yang sama, dan yang muncul lelaki itu lagi. Ketika Rasulullah saw tegak berdiri hendak pergi, Abdullah bin Amr mengikuti orang itu dan ia berkata kepada orang itu, “Wahai fulan, aku sedang bertengkar dengan bapakku maka aku bersumpah tidak masuk ke rumah bapakku selama 3 hari. Jika engkau sudi menampungku selama 3 hari, maka aku ingin sekali bersamamu...