Sabtu, 25 Desember 2010

Menunaikan Haji Tapi Tidak Zakat

Ustadz apa hukumnya orang yang mampu melaksanakan haji tetapi tidak menunaikan zakat? Apakah hajinya sah?

Seorang muslim dituntut untuk melaksanakan ibadah secara utuh, sebagaimana halnya diwajibkan menegakkan Islam secara keseluruhan. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya”. (QS. Al-Baqarah: 208). Dengan demikian, seluruh kewajiban ibadah tidak boleh dipilah-pilah dalam pelaksanaannya. Seorang muslim wajib menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan shaum di bulan Ramadhan, serta pergi haji ke Baitullah bagi yang mampu. Barangsiapa meninggalkan salah satu dari kewajiban-kewajiban tersebut tanpa adanya alasan (udzur syar’i), maka dia telah melanggar perintah Allah.

Orang yang meninggalkan sebagian kewajiban disebabkan kelalaian, malas ataupun kebodohan, tanpa bermaksud mengingkari kewajiban tersebut atau meremehkan syari’ah Allah dan masih mengerjakan sebagian kewajiban Islam lainnya, maka ia masih digolongkan sebagai seorang muslim, walaupun disifati sebagai seorang muslim yang durhaka kepada Allah SWT. Bagi mereka mendapatkan pahala atas amal kebaikan yang dilakukannya, sebagaimana ia harus menanggung dosa atas kewajiban yang disia-siakannya. Allah SWT berfirman: “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula”. (QS. Al-Zalzalah: 7-8)

Dalam kasus yang ditanyakan diatas, maka selama tidak ditunaikannya zakat dikarenakan kebodohan dan bukan pengingkaran atas kewajiban tersebut, maka orang tersebut adalah orang yang durhaka. Wajiblah baginya untuk segera bertaubat dan melaksanakan kewajiban yang diabaikannya. Dan kewajiban bagi saudara-saudaranya yang lain untuk berda’wah dan saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. Adapun hajinya, tetap sah selama terpenuhi syarat sahnya haji.Wallahu’alam.

Jumat, 24 Desember 2010

Memperoleh Pekerjaan Dengan Menyuap

Ustadz bagaimana hukumnya memperoleh pekerjaan dengan cara menyuap? Apakah pekerjaan tersebut halal?

Praktek suap (risywah) baik berupa uang, barang atau bentuk lainnya, adalah tindakan pelanggaran syari’ah yang serius. Para pelaku yang terlibat di dalamnya, yaitu penyuap, yang menerima suap dan perantara terjadinya praktek tersebut dilaknat oleh Rasulullah SAW sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Imam Tirmidzi: “Rasulullah SAW melaknat orang yang menyuap, yang menerima suap dan orang yang menjadi perantara diantara keduanya”. (HR. Tirmidzi). Dalam hadits yang lain, Rasul SAW bersabda: “Orang yang menyuap dan orang yang disuap masuk neraka”. (HR Thabrani).

Kerasnya larangan praktek suap ini karena bisa merusak kehidupan masyarakat. Bila suap menyuap telah biasa dan membudaya di tengah masyarakat, niscaya rusaklah seluruh tatanan kehidupan masyarakat tersebut. Tidak hanya rusak dari sisi akhlak semata, tetapi juga meruntuhkan sendi ekonomi, ikatan sosial, kehidupan politik bahkan kerusakan lingkungan pun tidak sedikit disebabkan oleh praktek suap ini. Dengan demikian, tidak sepatutnya seorang muslim terlibat dalam suap ini, ia justru seharusnya ikut memberantas praktek tercela ini.

Namun saat ini, suap-menyuap menjadi salah satu fitnah yang dihadapi kaum muslimin, hampir dalam seluruh sendi kehidupan, termasuk dalam memperoleh pekerjaan. Sehingga seorang muslim sulit untuk benar-benar terhindar dari praktek suap-menyuap. Dalam kasus yang anda tanyakan, jika suap dilakukan untuk memperoleh suatu pekerjaan, padahal anda tidak berhak dan ada orang lain yang berhak, maka anda merampas hak orang lain. Selain berdosa atas suap yang dilakukan, harta yang diperoleh dari pekerjaan itu pun haram.

Tetapi, apabila anda memang berhak atas pekerjaan tersebut (setelah melalui seleksi dan memenuhi syarat-syarat) tetapi tetap diharuskan memberi suap (dengan beragam nama dan bentuk), maka anda berdosa atas suap yang dilakukan dan wajib bertaubat. Adapun harta yang diperoleh dari pekerjaan tersebut halal karena berasal dari pekerjaan yang menjadi haknya dan dari hasil jerih payahnya. Wallahu’alam.

Kamis, 23 Desember 2010

Shalat dalam Perjalanan

Ustadz, apakah menunaikan shalat di kendaraan umum (bis, kereta, kapal, pesawat) tetap harus menghadap kiblat? Mohon penjelasannya.

Tidak sah shalat seseorang yang tidak menghadap kiblat. Allah SWT berfirman: “Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram dan dimanapun kalian berada hadapkanlah wajahmu ke arahnya”. (QS. Al-Baqarah: 144). Keharusan menghadap kiblat tidak hanya bagi shalat wajib tetapi juga shalat-shalat sunnah. Hanyasaja, terdapat keringanan bagi shalat sunnah yang dilakukan diatas kendaraan, boleh dilaksanakan tanpa mengarah kiblat. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits dari ‘Amir bin Rabi’ah ra: “Saya melihat Rasulullah shalat (sunnah) diatas kendaraan menuruti arah kendaraan itu”. (Fiqhus Sunnah I hal 110)

Adapun shalat fardhu tidak ada dalil yang menunjukkan bolehnya tidak menghadap kiblat. Oleh karena itu, saat hendak bepergian seorang muslim hendaknya merencanakannya dengan baik, termasuk memperhitungkan waktu shalat dan menggunakan rukhsah (keringanan) bagi musafir untuk menyatukan dua waktu shalat (jama’). Saat ini pun, tidak sulit untuk menemukan masjid dan mushala disepanjang jalan dan tempat-tempat pemberangkatan (terminal, pelabuhan dan air port) sehingga mempermudah seorang muslim untuk melaksanakan shalat pada waktunya.

Namun adakalanya jadwal perjalanan serta rute kendaraan umum (bis, kereta, kapal dan pesawat udara) diluar kemampuan seorang muslim untuk mengaturnya, sehingga ia tidak bisa melaksanakan shalat fardhu sebagaimana mestinya. Dalam kondisi dharurat seperti itu, apabila waktu shalat tiba dan dikhawatirkan habisnya waktu shalat sebelum sampai di tempat tujuan/pemberhentian dimana anda bisa melaksanakan shalat, maka anda wajib melaksanakan shalat sesuai dengan kemampuan. Firman Allah SWT: “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu”. (QS. At-Taghabun: 16) dan hadits Rasulullah SAW: “Jika aku perintahkan kalian untuk melakukan sesuatu maka lakukanlah apa yang kalian sanggupi”. (HR Muslim kitab al-Hajj hadit no 1337). Termasuk dalam masalah menghadap arah kiblat, jika tidak memungkinkan, menghadap saja mengikuti arah kendaraan. Wallahu’alam bishshowab.

Rabu, 22 Desember 2010

Menyikapi Perbedaan Pendapat

Dalam suatu masalah, seringkali para ulama berbeda pendapat. Hal ini sering membuat saya bingung harus mengikuti yang mana. Bagaimana saran ustadz?

Perbedaan pendapat di kalangan ulama semestinya tidak perlu menyebabkan kebingungan, malah membawa hikmah bagi ummat dalam menjalankan agamanya. Selain itu, perbedaan itu pun terjadi pada masalah-masalah ijtihadi seperti fiqih dan cabang-cabang agama (furu’), adapun pada masalah-masalah pokok (ushul) seperti aqidah, alhamdulillah sangat sedikit perbedaan pendapat ulama.

Untuk memutuskan pendapat ulama mana yang akan diikuti, hal pertama ialah ketahui dan fahamilah argumentasi dari pendapat tersebut. Argumentasi yang dimaksud ialah dalil-dalil baik dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Pendapat yang tidak didukung dalil-dalil yang sah, bisa langsung diabaikan. “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan RasulNya (as-Sunnah)”. (QS. An-Nisaa’ 59).

Tidak akan mampu menyimpulkan hukum, pendapat dan pandangan atas suatu masalah dalam agama ini, kecuali para ulama yang memahami benar tentang al-Qur’an dan as-Sunah. Karena itu, hal kedua ialah perhatikan kompetensi keilmuan orang yang berpendapat tersebut. “Maka bertanyalah kepada ahludz dzikr jika kamu tidak mengetahui”. (QS. An-Nahl: 43). Ahludz Dzikr ialah para ulama yang menguasai ilmu tentang al-Qur’an dan as-Sunnah. Tidak boleh seorang muslim meminta pendapat atau fatwa dalam agama ini kepada orang yang tidak jelas atau diragukan keilmuannya dalam masalah agama (syari’ah).

Ketiga, jika pendapat yang berbeda tersebut sama-sama didukung argumentasi yang kuat dan yang berbeda pendapat adalah ulama-ulama yang dikenal luas keilmuan dan kewara’annya, maka hal itu kembali kepada siapa anda percaya (tsiqah). Berkata syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: “Barangsiapa mengikuti para Imam dan mencintai mereka, mengikuti pendapat mereka yang (diyakininya) selaras dengan sunnah, maka dia telah melakukan hal yang baik bahkan inilah yang lebih baik dari yang lain”. (Majmu al-Fatawa juz 22, hal 250). Wallahu’alam.

DOWNLOAD ARTIKEL INI

Selasa, 21 Desember 2010

Makna Hikmah dalam Da'wah

Ustadz, saat ini bermunculan gerakan da’wah yang mengedepankan kekerasan, bahkan tidak sungkan-sungkan menghujat ulama lainnya, padahal bukankah da’wah harus dengan hikmah dan lemah-lembut? Bagaimana pendapat ustadz?

Dakwah Islam harus dilakukan dengan hikmah, hal ini ditegaskan Allah SWT, diantaranya dalam firmanNya: “Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”. (QS. An-Nahl: 125). Secara bahasa, pengertian hikmah ialah pengetahuan mengenai sesuatu yang paling baik dengan landasan ilmu yang terbaik”. (Lisanul Arab jilid 12 hal 140). Sedangkan kata hikmah di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah memiliki makna yang beragam, tidak kurang dari dua puluh makna. Imam Ibnul Qayyim berkata: “Pendapat yang paling baik tentang hikmah adalah pendapat Mujahid dan Malik. Hikmah adalah pengetahuan tentang kebenaran dan pengamalannya, ketepatan dalam perkataan dan perbuatan. Hal ini tidak bisa dicapai kecuali dengan memahami al-Qur’an, mendalami syari’ah Islam serta hakikat iman”. (At-Tafsirul Qayyim hal 226).

Dari uraian tersebut, maka da’wah yang penuh hikmah ialah dakwah yang tepat, sesuai dengan syari’ah Islam dalam merespon situasi dan kondisi yang dihadapi. Ketepatan ini setidaknya berkaitan dengan empat hal: kondisi da’i-nya (ilmu, wawasan dan akhlaknya), keadaan obyek da’wahnya (mad’u), materi yang didakwahkannya (risalah), cara dan sarana yang digunakan (uslub wa wasail).

Karena itu, tidak selamanya sikap lemah lembut dalam da’wah adalah hikmah. Begitu pula sebaliknya, sikap keras tidak selamanya jauh dari hikmah. Adakalanya sikap lemah lembut justru dianggap kelemahan, bukan hikmah. Dalam situasi yang lain, sikap tegas justru dituntut. Kemampuan bertindak yang tepat pada situasi dan kondisi berdasarkan ilmu pengetahuan, adalah hikmah yang dikaruniakan Allah SWT kepada para da’i yang benar-benar memahami al-Qur’an dan as-Sunnah serta konsisten dalam keimanannya. Firman Allah SWT: “Allah memberikan hikmah kepada yang dikehendakiNya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak”. (QS. Al-Baqarah 269). Wallahu’alam bishshawab.

DOWNLOAD ARTIKEL INI

Senin, 20 Desember 2010

Hukum Menolak Syariah bagi Seorang Muslim


Ustadz, apa hukumnya bila seorang muslim menolak syari’ah Islam?

Muslim artinya orang yang tunduk patuh pada ajaran Islam secara total. Tidak boleh seorang muslim memilah-milah ajaran Islam dan hanya melaksanakan apa-apa yang dianggap menguntungkan atau selaras dengan pikiran dan perasaannya semata. Sesungguhnya, sangatlah banyak dalil al-Qur’an maupun dari al-hadits berkaitan dengan masalah wajibnya seorang muslim melaksanakan syari’ah Islam, tanpa ragu dan bimbang. Diantaranya firman Allah SWT : “Maka demi Rabb-mu, mereka (pada hakikatnya) tidaklah beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (QS. An-Nisaa’: 65). Ayat ini secara umum menyatakan bahwa tidak dikatakan seseorang itu beriman sehingga mereka menerima sepenuhnya hukum yang dibawa Rasulullah SAW (Islam) dalam setiap urusan mereka.
Tidak sepatutnya seorang yang mengaku muslim mengabaikan Islam (syari’ah Islam) dalam kehidupannya, apalagi menolaknya. Adapun hukum menolak syari’ah ini bisa dilihat dari sebabnya. Pertama, bila penolakan itu karena ia berkeyakinan boleh (tidak apa-apa) seseorang berhukum dengan hukum selain syari’ah bahkan memandang hukum buatan manusia lebih utama atau setara dengan hukum Allah, maka para ulama sepakat orang seperti ini kafir. Kedua, orang yang menolak syari’ah karena adanya kepentingan dunia (keuntungan, hawa nafsu, dll) namun ia meyakini bahwa perbuatan itu dosa besar dan pelanggaran berat, maka orang ini telah kemungkaran dan maksiat yang besar dan kekufuran kecil. Demikian pendapat Ibn Abbas, Mujahid dan ulama lainnya. (Fatawa Syaikh Ibn Baz, Majmu’ fatawa wa maqalat mutanawwiyah hal 355)
Namun, penolakan yang dilakukan seorang muslim atas syari’ah Islam, kemungkinan besar disebabkan oleh kebodohan mereka terhadap Islam dan syari’ahnya, karena itu mereka lebih tepat disebut sebagai orang yang jahil. Tugas para ulama dan da’i Islam-lah untuk terus menerus menjelaskan Islam secara utuh, jelas dan benar kepada kaum muslimin. Wallahu ‘alam bishshawab. 

Pertanyaan Masalah Takdir

Ustadz, benarkah rezeki, ajal dan bahkan seseorang akan menjadi ahli neraka atau surga telah ditakdirkan Allah SWT. Jika demikian, untuk apa manusia berusaha dan para ustadz berdakwah?

Kesalahan memahami masalah takdir menjerumuskan manusia pada dua kesesatan. Pertama, sikap fatalis, menyerah pasrah atas apapun yang menimpa dirinya (musayyar) sebagaimana kaum jabariyah. Kedua, sikap bebas dimana manusia bisa melaksanakan amalnya semata-mata disebabkan kemauannya sendiri (mukhayyar) sebagaimana difahami kaum mu’tazilah. Karena itu, memahami masalah takdir adalah hal prinsipil dalam keimanan seorang muslim.

Di dalam al-Qur’an banyak firman Allah SWT yang menegaskan, bahwasanya seluruh makhluk Allah tidak lepas dari takdirNya. Diantaranya, firman Allah SWT: “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu itu dengan qadharnya”. (QS. Qamar 49). Makna takdir (qadhar) ialah ketentuan atau ketetapan Allah SWT atas segala makhluknya. Termasuk di dalamnya ketetapan sebab-akibat, hukum kausalitas. Orang masuk neraka atau surga adalah akibat, maksiat atau tha’at adalah diantara sebabnya.

Intinya, apa yang telah terjadi maupun apa yang akan terjadi, ada dalam ilmu Allah SWT. Semua kemungkinan yang diambil manusia, telah Allah ketahui akibatnya. Tindakan yang anda ambil melahirkan ratusan kemungkinan dan jutaan atau bahkan milyaran kemungkinan, semuanya dalam pengetahuan Allah dan tidak lepas dari apa yang telah ditetapkan Allah. Jika manusia ingin selamat hidupnya di dunia dan di akhirat, Allah mewajibkan manusia mengikuti al-Qur’an dan as-Sunnah. Untuk mencapai keberhasilan hidup di dunia, wajiblah manusia mempelajari sunnah kauniyah (ketetapan-ketetapan Allah di alam semesta ini).

Bekerja atau berdagang untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, berdakwah ke jalan Allah dan berjihad untuk menghapus kemungkaran dan kedzaliman adalah bagian dari takdir itu sendiri. Ketika Nabi SAW ditanya apakah berobat bisa menolak takdir (sakit). Beliau SAW menjawab: “Itu (berobat) termasuk takdir Allah juga”. (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmidzi). Wallahu’alam.

DOWNLOAD ARTIKEL INI